Menengok Rumah Kelomang di Kampung Karang Kitri
Oleh Ananda M Firdaus, pada Feb 02, 2018 | 11:13 WIB
Menengok Rumah Kelomang di Kampung Karang Kitri
Tempat berjualan rumah kelomang di Kampung Kitri, Bekasi. (ayobandung/Ananda Firdaus)

BEKASI TIMUR, AYOBEKASI.NET – Di balik megahnya Gedung DPRD Kota Bekasi, ada Kampung Karang Kitri. Itu adalah kampung di mana kamu bisa melihat sejumlah warga tengah sibuk mengerjakan kerajian yang terbuat dari bahan spons. Mereka merangkainya menjadi rumah-rumahan berukuran kecil yang penuh warna. Katanya, rumah itu untuk umang-umang atau kelomang, si hewan laut bercangkang keras yang disukai anak-anak.

Saat berkunjung, ayobekasi bertemu dengan Ibu Tarmah (53). Ia adalah salah satu dari sejumlah pembuat rumah kelomang di Kampung Karang Kitri, Kecamatan Bekasi Timur. Telah 15 tahun lamanya ia berjibaku dengan rumah kelomang ini.

Tarmah bisa disebut sebagai lakon utama yang mendorong industri rumah kelomang ini dapat hidup dan menyebar menjadi pekerjaan warga sekitar. Usaha membikin rumah buat kelomang ini awalnya adalah usaha keluarga Tarmah. Dulu, sang suami yang akrab dipanggil Ewok (55), membikin rumah kelomang berbahan kertas biasa. Tapi karena kertas tak bertahan lama, Tarmah mencoba bahan lain.

"Awalnya dulu pakai kertas, terus saya coba ngulik pakai spons kaya gimana, tapi ternyata hasilnya bagus. Lalu lama kelamaan tetangga ngikutin karena mudah ditiru," kata Tarmah, Jumat (2/2/2018).

Hasil produksi buatannya terhitung beragam. Sekitar puluhan model rumah kelomang dengan berbagai ukuran. Mulai ukuran kecil yang dihargai Tarmah Rp600, sampai yang termahal seharga Rp7000 ada di sini.

Kini, Tarmah berperan sebagai pengepul di Kampung Kitri. Sebuah ruangan berukuran 8x4 meter di depan rumahnya disulap menjadi gudang sekaligus tempat jualan grosir rumah kelomang hasil kerjaan warga sekitar.

"Saya ngambil bahan limbah spons dari Tangerang, terus saya kasih pekerja modal bahannya, nanti saya terima produk jadi," kata Tarmah. Dengan begitu, pelan-pelan Tarmah membantu warga sekitar. “Alhamdulillah kita bisa nyerap tenaga kerja, ampir tiap rumah ada (pekerja),” katanya.

Seorang warga, Ardi (26), merasa terbantu dengan adanya industri rumah kelomang ini. Meski imbalan yang dikantonginya tak terlalu besar, tapi setidaknya itu cukup untuk mengisi kebutuhan sehari-hari. "Ya lumayan lah cukup kalau buat beli makan sehari-hari," kata Ardi.

Jangkauan distribusi hasil produksi rumah kelomang ini tak main-main. Kini telah beberapa daerah, bahkan lintas provinsi dijangkau Tarmah. Sebut saja Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Tegal, Brebes, dan Surabaya. “Beberapa provinsi belanja dari sini, malah nembus sampai ke Medan,” aku Tarmah.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600