Mengenal Wanita di Balik Meja Pengawas Pilkada Bekasi
Oleh Ananda M Firdaus, pada Feb 22, 2018 | 15:50 WIB
Mengenal Wanita di Balik Meja Pengawas Pilkada Bekasi
Novita Ulya Hastuti. (Ananda Muhammad/ayobekasi.net)

BEKASI TIMUR, AYOBEKASI.NET -- Tatapannya ramah, penuh simpati ketika AyoBekasi menemuinya disela-sela tugas. Dia menjadi satu di antara banyak wanita yang pernah berposisi sebagai pemimpin. Namun, di antara jabatan itu, dia memilih posisi yang terkadang sukar untuk dipahami, menjadi pengawas pemilu. 

"Banyak motivasi yang mendorong saya masuk dunia kepemiluan. Karena memang saya lebih tertantang di dunia ini," ujar Novita Ulya Hastuti, perempuan yang menjadi Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Bekasi, Kamis (22/2/2018). 

Novi bercerita, niat memilih menjadi bagian dari perangkat kepemiluan tidaklah asal. Dirinya mendapat keberanian lantaran sempat mengemban tugas yang jadi dasar pengalamannya di KPU Kabupaten Sukoharjo, tempat kelahirannya.

Jauh kebelakang lagi, keberanian Novi dijajaki oleh kegemaran masuk dunia organisasi. Dia mengaku telah mulai aktif di dunia organisasi semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama.

"Sejak dari SMP kelas tiga sudah aktif di karang Taruna bahkan hingga kuliah," kata dia.

Tidak sampai disana, latar belakan kepemimpinan Novi didapatkan lantaran sempat dipercaya menjadi seorang ketua di salah satu organisasi mahasiswa tertua Tanah Air, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). 

"Masuk PMII sejak kuliah, dari jenjang pengurus komisariat (tingkatan universitas) hingga jadi Ketua PMII Cabang Kabupaten Sukoharjo periode 2007-2008," ungkap wanita kelahiran Sukoharjo, 23 November 1985 ini.

2 di antara 25 Ketua Panwaslu Jawa Barat 
Setelah disahkan menjadi anggota Panwaslu oleh Bawaslu Jawa Barat, dirinya terpilih menjadi Ketua Panwaslu Kota Bekasi usai rapat pleno bersama kedua rekan komisionernya, Tommy dan Iqbal.

Yang menarik, di antara puluhan anggota komisioner se-Jawa Barat, dua orang wanita berhasil terpilih sebagai Ketua Panwaslu. 

"Se-Jawa Barat, perempuan hanya empat, dua perempuan jadi ketua panwaslu, saya di Kota Bekasi, satu lagi di Bandung. Dua sisanya jadi Komisioner di Purwakarta dan Sukabumi," kata dia.

Bagi Novi, menjadi ketua adalah pengalaman tersendiri karena sangat berarti bagi jenjang karirnya apalagi didapatkan di usia yang terbilang muda dan dukungan sang suami.

"Karena jarang perempuan bisa di posisi menjadi leader. Apalagi jadi ketua panwaslu yang harus siap karena berbagai macam intervensi, saran, dan kritik. Itu semua sempat saya rasakan, tapi tergantung kita sendiri yang menyikapi, artinya butuh kesabaran, ini perjuangan, ini tentang keikhlasan," tutur dia.

Terlepas dari hal-hal terburuk, dirinya berusaha kukuh dengan pendirian dan aturan yang otomatis disematkan padanya sebagai pengawas pemilu. Dia pun berharap agar komitmen, integritas, dan kedisiplinan selalu terjaga ketika hajat politik ini masih berjalan.

Terlebih, dengan keyakinannya, bahwa sosok wanita dimana pun dia berada, memiliki kelebihan ketika ditunjuk menjadi seorang pemimpin. 

"Pesan yang sering saya utarakan seperti dalam surat Al Hujurat ayat 13, manusia diciptakan untuk saling kenal mengenal, dan di mata Allah yang Maha Melihat, antara laki-laki dan perempuan, Dia (tidak membedakan derajat manusia) melihat dari ketaqwaannya," tutup Novi.

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600