Semangat Keragaman dalam Perayaan Cap Go Meh Kota Bekasi
Oleh Ananda M Firdaus, pada Mar 02, 2018 | 20:38 WIB
Semangat Keragaman dalam Perayaan Cap Go Meh Kota Bekasi

BEKASI TIMUR, AYOBEKASI.NET -- Riuh rendah suasana Klenteng Hok Lay Kiong amat terasa setelah bendera merah putih tersebut diayun. Sang komando berkata. "Kita boleh bergembira, tapi ada batasnya, batasnya keamanan." Lalu satu persatu rombongan Kirab Budaya Perayaan Cap Go Meh mulai mengarak keluar jalan.

Klenteng Hok Lay Kiong yang beralamatkan di Jalan Kenari 1, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi, menjadi tuan rumah perayaan ini tiap tahunnya di Kota Bekasi.

Tahun 2018, merupakan Tahun Anjing Tanah berdasarkan penanggalan kalender Imlek yang mengacu pada perhitungan lunar atau perhitungan Bulan yang mengelilingi Bumi. Terhitung sudah 2569 tahun usia kalender. 

"Cap Go Meh itu penutupan dari rangkaian tahun baru Imlek 2018. Ini sudah jadi tradisi kita," beber Ketua Yayasan Pancaran Tridharma sebagai pengelola Klenteng Hok Lay Kiong, Ronny Hermawan, Jumat (2/3/2018). Menurut dia, semoga di tahun anjing tanah ini, masyarakat lebih merasakan kasih sayang, bak sifat anjing yang setia hingga dipenuhi kesan saling sayang menyayangi.

Perayaaan Cap Go Meh yang digelar di Kota Bekasi boleh disebut agak berbeda dibanding daerah lainnya. Kota Bekasi merupakan salah satu wilayah dimana berbagai etnis, suku bangsa berkumpul, hingga akhirnya membuat perayaan menjadi wadah masyarakat dari berbagai daerah dapat menampilkan budayanya masing-masing.

Menurut Ronny, Cap Go Meh memang tidak diperuntukkan khusus bagi etnis tertentu saja. Lebih jauh, warga keturunan Tionghoa telah lama menetap dan berbaur dengan masyarakat Bekasi, hitungan puluh bahkan ratus tahun lamanya.

Hal itu pula yang akhirnya membuat perayaan bisa dinikmati kalangan manapun. "Karena ini bukan perayaan agama jadi bisa menyatu dengan kearifan lokal, contohnya tradisi betawi kita tampilkan ondel-ondel, Sisingaan dari Sunda, Reog dari Ponorogo, pokoknya macem-macem," terang Ronny.

Tidak sebatas itu, pawai yang digelar sejak pukul 14.00-17.00 WIB, menampilkan berbagai atraksi khas seperti di negara asalnya yakni barongsai, dan naga yang silih berganti menunjukan aksinya pada warga yang menyelimuti pawai.

Tak ketinggalan, jemaat Hok Lay Kiong membawa tandu-tandu berbentuk kotak berwarna merah, berhiaskan bunga-bunga dan berisikan patung-patung dewa. Jemaat mengarak sepanjang rute jalan yang telah ditentukan panitia, dan sesaat setelah kembali ke Klenteng, warga berebut mencabuti bunga yang konon membawa berkah bagi kehidupan.

"Karena Cap Go Meh ini seperti ruwatan bumi, maka kita berharap Kota Bekasi bisa terhindar dari bencana, malapetaka dan pengaruh-pengaruh buruk. Serta mudah-mudahan rakyatnya makin sejahtera dan senantiasa diberikan kesehatan," harap Ronny memungkasi pembicaraan.

Semangat Keragaman di Mata Warga Bekasi

Seorang jemaat Klenteng Hok Lay Kiong, Acim (41) mengungkapkan, dengan digelarnya Cap Go Meh, dia berharap sesama jemaat di lingkungan Klenteng Hok Lay Kiong dapat semakin harmonis dan dapat gencar membantu warga lain, meskipun secara keyakinan berbeda.

Ia berujar, Kota Bekasi telah berhasil menyatukan perasaan antar umat sehingga begitu mencintai kotanya. Semoga di tahun yang tengah hangat-hangatnya akan nuansa politik, masyarakat bisa mempertahankan kesatuan itu. "Kita harus menjaga persatuan, NKRI harus dipertahankan," kata dia.

Senada dengan Acim, Yahya (25) seorang pengunjung perayaan, menginginkan hal yang sama. Baginya, Cap Go Meh merupakan momen dimana Warga Kota Bekasi dapat berkumpul dan bergembira sebagai tanda saling menghormati dan saling memiliki. 

"Jadi momentum untuk memperlihatkan daerahnya (Kota Bekasi) sebagai daerah yang plural, kita bisa saling menghormati dan itu untuk menunjukkan persatuan dan kesatuan," ucapnya.

Di kesempatan lain, Pjs Wali Kota Bekasi, Ruddy Gandakusuma mengungkapkan apresiasi karena helatan yang meriah. Tak ubahnya tugas pemimpin yang harus memotivasi warga, Ruddy mengharapkan tradisi bisa dilestarikan, karena apa yang telah digelar menunjukkan semangat keragaman.

"Kita tidak di posisi saling membedakan, tapi semua sama. Sudah barang tentu saya mendukung tradisi ini agar terus dilanjutkan. Dan semua kegiatan-kegiatan yang sifatnya heterogen dan itu menjadi tradisi di Kota Bekasi, saya akan dukung sepenuhnya," ujar Ruddy. 

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600