Revolusi Industri 4.0 Jadi Tantangan Indonesia ke Depan
Oleh Ananda M Firdaus, pada Mar 06, 2018 | 21:19 WIB
Revolusi Industri 4.0 Jadi Tantangan Indonesia ke Depan
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir saat berbicara di Universitas Gunadarma, Bekasi, Selasa (6/3). (ayobekasi/Ananda Firdaus)

BEKASI SELATAN, AYOBEKASI.NET -- Arus globalisasi yang disertai dengan melesatnya perkembangan teknologi sudah tak terbendung lagi masuk ke segala lini kehidupan. Disertai perkembangan teknologi itu, dunia memasuki babak baru revolusi industri generasi keempat (4.0). 

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa menghindari tantangan tersebut. Oleh karenanya, perguruan tinggi harus menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas.

"Sekarang kita masuk di era revolusi industri 4.0, inilah yang sedang kita hadapi. Untuk menyikapinya butuh kebijakan yang berbeda dari masa-masa sebelumnya," kata Nasir saat memberi kuliah umum “Kebijakan Pendidikan Tinggi untuk Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0” di Universitas Gunadarma Bekasi, Bekasi Selatan, Selasa (6/3/2018). 

Menurut Nasir, saat ini dunia pendidikan global telah melirik revolusi industri 4.0 sebagai dasar pengembangan sumber daya manusianya (SDM) karena tidak secara langsung SDM yang akan memberi dampak pada orientasi pembangunan negara ke depannya. 

Nasir menjelaskan, revolusi industri 4.0 muncul dengan menekankan pembaharuan serba teknologi di antaranya lewat pola digital economyartificial intelligencebig datarobotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation, sehingga tepat bila perguruan tinggi mulai beradaptasi akan isu ini.

"Negara yang akan menang bukanlah yang mempunyai wilayah yang besar, bukan juga jumlah penduduknya yang banyak, tapi negara yang memanfaatkan SDM yang menghasilkan inovasi, itu yang akan menang," kata dia.

Kata Nasir, berdasarkan evaluasi awal tentang kesiapan negara dalam menghadapi revolusi industri 4.0, Indonesia diperkirakan memiliki potensi untuk bersaing meski masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand untuk tingkat Asia Tenggara. 

Sementara terkait dengan indeks kompetisi global pada World Economic Forum 2017-2018, Indonesia menempati posisi ke-36, naik lima peringkat dari tahun sebelumnya posisi ke-41 dari 137 negara.

"Indonesia berada di jalur yang benar, tetapi belum mampu berlari kencang menyusul Singapura, Malaysia, Thailand. Indonesia juga harus berhati-hati dengan Vietnam, sehingga kita harus terus maju dan memperkuatnya," ujar Nasir. 

Nasir mengungkapkan, sasaran kementeriannya saat ini ialah melakukan perubahan pada program dan model layanan yang lebih banyak menyediakan atau menggunakan teknologi digital (daring) untuk diterapkan di perguruan tinggi. 

Kendati demikian, berkenaan pengembangan sumber daya akan terus pihaknya persiapkan di samping penerapan model layanan berbasis teknologi yang terus digencarkan. 

"Dari arus global ini kalau kita lihat situasinya bisa berdampak positif sekaligus negatif. Kalau positifnya yang diambil, dampaknya bisa mendorong investasi nasional dan mendorong lapangan kerja baru," terang Nasir.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha NMax