Netty Heryawan Ingatkan Sekolah Serius Wujudkan Sekolah Ramah Anak
Oleh Ananda M Firdaus, pada Mar 13, 2018 | 18:28 WIB
Netty Heryawan Ingatkan Sekolah Serius Wujudkan Sekolah Ramah Anak
Bunda Literasi Jawa Barat, Netty Prasetyani Heryawan berbincang dengan para siswa SMA 1 Kota Bekasi, Bekasi Timur, Selasa (13/3).

BEKASI TIMUR, AYOBEKASI.NET -- Menindaklanjuti Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 82/2015 tentang Sekolah Ramah Anak (SRA), Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mendorong kualitas pembangunan sekolah lanjutan tingkat atas (SMA/SMK) baik secara fisik dan non fisik.

Menurut peraturan tersebut, untuk mencapai SRA sekolah harus memenuhi tiga unsur, yakni infrastruktur (hardware), kurikulum (software), dan SDM sekolah (brainware) yang mumpuni. Sementara secara tujuan, SRA merupakan upaya untuk menjadikan sekolah menjadi bersih, aman, ramah, indah, inklusif, sehat, asri, dan nyaman.

Bunda Literasi Jawa Barat, Netty Prasetyani Heryawan, mengungkapkan sekolah di Jabar secara umum telah memiliki kesiapan untuk menerapkan konsep SRA, namun karena peraturan masih baru, maka sebagian banyak sekolah masih beradaptasi.

"Konsepnya sangat komprehensif, kalau kita lepaskan begitu saja ke sekolah mungkin sekolah punya kesulitan untuk melakukan pentahapan implementasinya," ujar Netty saat ditemui awak media di SMA 1 Kota Bekasi, Bekasi Timur, Selasa (13/3/2018). Kedatangannya tersebut sebagai salah satu upaya sosialisasi program SRA.

Netty menjelaskan, turunnya aturan saat itu disertai dengan fenomena kekerasan yang terjadi di sekolah dan merebak sehingga menjadi kekhawatiran banyak pihak. Menurutnya, pemerintah Jabar menggencarkan sosialisasi sebagai upaya menekan hal tersebut karena masing-masing unsur SRA saling mempengaruhi.

Dia menerangkan, unsur hardware atau infrastruktur sekolah-sekolah di Jabar sudah cukup memadai. Dari total 782 sekolah lanjutan tingkat atas, Netty mengklaim 80% sudah memenuhi unsur hardware

"Saya berkeliling ke sekolah-sekolah sebetulnya semua sekolah menyatakan siap. Dan ketika saya melihat secara fisik sudah 80%. Rata-rata, kan, sudah punya gedungnya sendiri," ujar Netty. 

Sementara untuk urusan software atau tentang kurikulum dan proses belajar mengajar telah mengacu pada pedoman pusat, namun untuk pengembangannya, sekolah diharapkan mampu menambahkan inovasi, seperti lewat cara pengajaran.

"Nah untuk urusan software semua menuju mantap karena diarahkan dari pusat, dan itu harus  terus dikejar oleh guru karena itu pertaruhan sebagai tolak ukur sekolah," ujar dia.

Lantas yang menjadi perhatiannya saat ini terkait brainware yakni para guru bisa menciptakan iklim kondusif di sekolahnya. Karena tanpa guru yang mendorongnya, maka SRA tidak akan terwujud. 

"Justru yang harus diperkuat saat ini dari brainware-nya, jangan membuat anak tertekan. Jadi prosentase yang brainware ini harus ditingkatkan masif," kata dia.

Netty menambahkan, tanpa keterlibatan penuh SDM sekolah, maka unsur hardware dan software yang sebelumnya telah ada tidak dapat berkembang sehingga konsep SRA terwujud. 

Maka dia meminta agar sekolah-sekolah dapat bersikap serius.

"Kenapa hal ini penting, karena kalau bicara hanya fisik dan kurikulum yang terpenuhi itu sulit, jadi SDM yang terlibat dan bisa membangun kesepahaman itu, dan itu yang harus diprioritaskan," pungkasnya. 
 

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600