Begini Tanggap Warsa Penghayat Kebatinan Perjalanan Kota Bekasi
Oleh Ananda M Firdaus, pada Oct 03, 2018 | 16:34 WIB
Begini Tanggap Warsa Penghayat Kebatinan Perjalanan Kota Bekasi
Pemuka Penghayat Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa, Aliran Kebatinan Perjalanan, Nurjan Inoy dalam Perayaan Tanggap Rasa 1 Sura 1952 Saka, Kelurahan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Selasa (2/10/2018). (Ananda M Firdaus/Ayobekasi.net)

MUSTIKAJAYA, AYOBEKASI.NET -- Masyarakat Sunda sangat menghormati adanya penciptaan alam. Alam sebagai pusat pembelajaran selalu bisa terefleksi bagi kehidupan budaya dan adat. Alam pula sekaligus sebagai perantara mengenal keagungan Tuhan sehingga manusia patut bersyukur setiap saat.

 

Masyarakat Sunda, tak terkecuali para Penghayat Aliran Kebatinan Perjalanan di Kelurahan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, diajarkan menghormati pemberian Maha Kuasa tersebut misalnya lewat ritual sedekah bumi yang dibingkai dalam perayaan Tanggap Warsa 1 Sura 1952 Saka.

 

"Turun temurun kita lestarikan acara ini sebagai bahan introspeksi tentang apa yang sudah kita lakukan sebelumnya dan apa yang harus kita lakukan esok hari," ujar Pemuka Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Aliran Kebatinan Perjalanan Kota Bekasi, Nurjan Inoy pada ayobekasi.net, Selasa (2/10/2018).

 

AYO BACA : Lestarikan Seni Tradisi, Pemkab Bekasi Gelar Pembinaan Seni Padalangan

Dalam perayaan, banyak sajian hasil bumi yang dihidangkan. Sesajen sengaja disediakan dengan beragam macam, mulai buah-buahan, sayur mayur, buah padi, beras merah dan putih, serta hasil-hasil bumi lain yang ditaruh menggunung menggunakan alas, ataupun diikat lalu digantung di pepohonan atau tiang-tiang kayu yang sedia telah dipajang.

 

Tiap sesajen hasil panen para penghayat memiliki makna dan perlambangan tersediri. Diharapkan pemaknaan dan perlambangan hasil bumi merasuk dan menjadi gambaran tuntunan hidup yang mesti dijunjung dikemudian hari.

 

Diakui Nurjan, sedekah bumi bukanlah sesembah bagi para leluhur, namun untuk para penghayat dan masyarakat secara umum yang sekarang masih hidup di dunia. Maka Nurjan menolak keyakinannya disebut animisme atau dinamisme lantaran adat sudah sekian abad terjaga sebelum munculnya istilah-istilah tersebut.

 

AYO BACA : Salametan Bumi Adat Babarit Masyarakat Kranggan

Katanya, leluhur tidak memerlukan sesajian, tetapi cukup didoakan dan para penghayat dengan keyakinannya menjaga kerukunan antar sesama mahluk seperti yang dipetuahkan turun temurun. Lebih lanjut, sedekah bumi untuk berkaca sejauh mana manusia yang diberikan kenikmatan tak terhingga mampu bersyukur pada Sang Pencipta.

 

"Sejauh mana orang yang masih hidup bisa mensyukuri apa yang telah didapatkan dari Maha Kuasa lewat tumbuhan, pepohonan, dan sumber makanan lainnya. Kita sedekah bumi bukan untuk dikebumikan, tapi untuk kita makan bersama-sama, jadi grebeg, semua kebagian hasil bumi ini," katanya.

 

Merujuk pada salah satu pembawa risalah Aliran Kebatinan Perjalanan, Mei Kartawinata, bahwa alam semesta merupakan tempat belajar dan menghayati segala keteraturan. Gunung, lembah, air, api, tanah, angin, dan segala mahluk hidup menjalankan kodratnya berjalan untuk kepentingan dan kesejahteraan umat manusia.

 

Di usia tahun Saka ke-1952, diharapkan ajaran tersebut mampu dijaga para penghayat. "Jadikan filosofi ini sebagai syarat menjalani hidup berbangsa. Dan Setelah tahun Saka ini kita rukun dalam hidup. Bersatu membangun negara ini, dan manunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa," pungkasnya.

AYO BACA : Warga Betawi Pondok Melati Gelar Tradisi

Editor : Dadi Haryadi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Lexi