Pengelola Janji Gelar Kesepakatan Berantas Penyimpangan Apartemen Center Point Bekasi
Oleh Ananda M Firdaus, pada Oct 09, 2018 | 15:53 WIB
Pengelola Janji Gelar Kesepakatan Berantas Penyimpangan Apartemen Center Point Bekasi
Apartemen Center Point Bekasi. (Ananda M Firdaus/Ayobekasi.net)
AYO BACA : Prostitusi Online Apartemen Center Point Tercium Sejak Kasus Kalibata City

AYO BACA : Polisi Bongkar Prostitusi Online di Apartemen Bekasi

BEKASI SELATAN, AYOBEKASI.NET -- Pengelola Apartemen Center Point Bekasi bersedia membuat kesepakatan dengan aparat berwenang agar praktek penyimpangan sosial, seperti prostitusi online yang terkuak di apartemennya dapat diberantas.
 
"Mungkin dalam waktu dekat ini, kita akan melakukan MoU kepada kepolisian, Satpol PP, dan instansi lain untuk mencegah kejadian terjadi kembali," kata Sekretaris Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Rumah Grand Center Point (P3SR), Aji Ali Syahbana, Selasa (9/10/2018). 
 
Dijelaskannya, kejadian tersebut merupakan preseden buruk bagi pihaknya. Namun pihaknya tidak menutupi hal tersebut dan melapor pada kepolisian sehingga kasus tersebut dapat terkuak, Sabtu (6/10). 
 
Dirinya menyadari, aparat penegak hukum dibutuhkan dalam pemberatasan kasus. Kendati pengelola sempat mencegah dengan melakukan sidak-sidak secara internal.
 
"Sebenarnya kita bikin SOP untuk meminimalisirnya (prostitusi), misalnya akses masuk itu hanya lewat lobby. Di lobby setiap ada tamu harus menitipkan KTP, jadi minimal ketika ada orang-orang asing dia bisa malu ketika ditanya maksud kedatangannya untuk apa, tapi kita juga sadar tidak bisa mengecek satu persatu, belum bisa terlalu masif," ujarnya. 
 
Saat terkuaknya kasus, polisi mengamankan 24 orang. Tiga di antaranya merupakan muncikari yang berperan sebagai perantara antara pemesan dan para wanita penjaja seks. Mereka menggunakan sejumlah platform media sosial untuk melancarkan bisnisnya.
 
Dalam penyelidikan, polisi masih mengejar satu orang diduga pelaku yang dikenal sebagai sosok mami. Selain itu, polisi masih mempelajari indikasi keterlibatan pihak lain, misalnya agen penyewa kamar apartemen. 
 
Aji sendiri tidak menuduh bahwa ada oknum agen yang membiarkan aktivitas ini tetap berlangsung hingga tujuh bulan lamanya. Namun dia melihat terdapat indikasi oknum pembuka kamar, mengingat sewa kamar apartemen dapat dilakukan per hari. 
 
"Saya pikir itu adalah oknum (agen), tapi saya tidak menuduh, tapi ada indikasi agen-agen membuka (sewa). Tentu kita dari pengurus tidak menginginkan adanya pemanfaatan kamar-kamar ini menjadi sarana prostitusi," katanya. 
 
Aji menjelaskan, kesepakatan dengan aparat berwenang  dirasa perlu dibutuhkan kedepannya. Selain kepolisian, unsur kedinasan seperti Dinas Sosial dan Dinas Tenaga Kerja akan ia rekomendasikan dalam rencana perjanjian. 
 
"(Fungsinya) contohnya ketika tertangkap tangan lagi (kasus serupa terjadi), kepolisian yang menindaknya, lalu ternyata pelaku prostitusi berbuat seperti ini karena kebutuhan ekonomi. Maka harus ada pembinaan oleh dinas sosial dan disnaker dalam pelatihan. Jadi ketika mereka punya keahlian mereka bisa beralih profesi yang lebih baik, kasarnya seperti itu," pungkasnya. 

AYO BACA : Polisi Buru Sosok Mami Prostitusi Online Bekasi

Editor : Dadi Haryadi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha NMax