Mengenal Sosok Tan Malaka Tanpa Stigma Lewat Film Dokumenter
Oleh Ananda M Firdaus, pada Oct 12, 2018 | 09:23 WIB
Mengenal Sosok Tan Malaka Tanpa Stigma Lewat Film Dokumenter
Suasana Bedah Film Tan Malaka di Unisma, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Kamis (11/10/2018). (Ananda Muhammad/ayobekasi.net)

BEKASI TIMUR, AYOBEKASI.NET -- Puluhan mahasiswa tampak serius menonton pemutaran film dokumenter "Mahaguru Tan Malaka" di kampus Universitas Islam '45 (Unisma) Bekasi, Kota Bekasi, Kamis (11/10/2018). 

Film tersebut menarik untuk ditonton sampai habis. Terlebih sosok pahlawan nasional asal Sumatera Barat ini disemati stigma negatif semasa hidupnya.

Film dokumenter besutan sutradara Daniel Rudi Haryanto ini dikemas lewat perpaduan video blog (vlog) oleh sosok Marco, yakni mahasiswa Indonesia dan animasi teknik arsir yang memperlihatkan kilas balik aktivitas Tan selama berkuliah di Kota Harleem, Belanda. 

Marco lewat vlognya, mencoba menyibak kehidupan Tan di Harleem dengan ditemani sang pemandu Harry A. Poeze, yang tak lain adalah sejarawan asal Belanda yang berhasil membuka misteri kematian Tan setelah kemerdekaan.

Rudi dalam kesempatan diskusi bedah film yang digagas Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini menjelaskan, film Mahaguru Tan Malaka bertujuan untuk mendekonstrusi kembali pemikiran banyak orang terhadap tokoh bernama asli Sutan Ibrahim ini karena kisahnya banyak diputarbalikan akan fakta sejarah.

"Membicarakan Tan Malaka tidak mudah, kalau tidak difasilitasi oleh Mendikbud (pembuatan film) saya sudah ditangkap, karena stigmanisasi umum," ujar Rudi.

Dia mempunyai rasa kepenasaran yang besar karena orangtuanya kerap menceritakan sosok Tan. Akan tetapi ia menyadari nama Tan tidak disinggung banyak semasa mengenyam pendidikan bangku sekolah.

Sebagai seorang mahasiswa Jurusan Dokumenter Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Rudi akhirnya memutuskan untuk membuat film ini setelah tahu bahwa perlu ada yang diluruskan dari sejarah Indonesia.

"Setelah meriset sosok ini, saya memahami orang ini adalah orang yang besar, hingga saya bertemu dengan Harry A. Poeze. Ada sesuatu yang harus diungkapkan dengan sosok ini lewat film," katanya.

"Secara sejarah Tan Malaka (misalnya) ikut melahirkan tentara nasional, tapi tidak pernah dikuak dokumen, malah diputarbalikan, sehingga hoaks-hoaks yang diproduksi Orde Baru masih terus hidup. Film ini untuk memberikan pelajaran sehingga hoaks-hoaks tersebut diungkap dengan yang sebenarnya," katanya.

Ben Ibratama, Dewan Pendiri Tan Malaka Institute, mengapresiasi gelaran Bedah Film yang digagas mahasiswa Unisma ini. Dia mengungkapkan, Tan banyak disangsikan dengan komunisme lantaran pergulatannya dengan Partai Murba, serta PKI yang berafiliasi dengan Komintern. Padahal, lanjutnya, dibalik itu semua Tan merupakan sosok religius, disamping gagasan-gagasannya menentang kolonialisme.

"Gagasan-gagasannya merujuk pada kepentingan sosial masyarakat, dia pengkritik handal lewat buku-bukunya akan kekejian kolonialisme dan kapitalisme, sehingga dia dibuang ke luar negeri," katanya. Ia pun berharap, masyarakat mengenali sosok Tan tidak sebatas mengikuti anggapan umum, tetapi lebih kritis dengan memahaminya 
berdasarkan referensi-referensi yang telah tertuang dalam buku.

Kepala Seksi Penulisan Sejarah Nasional,  Direktorat Sejarah, Kemendikbud RI, Tirmidzi mengatakan untuk mengenal Tan memang perlu studi kritis, sebagaimana mempelajari sejarah pada umumnya harus dengan berbagai literatur.

"Bila kita tak mengenal Tan Malaka secara maksimal maka kita tidak akan paham apa yang dilakukannya semasa dulu. Kita harus kritis terhadap sejarah, artinya ketika ada pelabelan sosok, maka tugas kita kritisi dengan menelusuri sejarahnya," katanya.

Dijelaskan Tirmidzi, setidaknya ada tiga hal yang cukup seksi, yang dapat dipelajari dari Tan. Pertama tentang pemikirannya yang orisinil, kedua nasionalisme Tan yang luhur, dan konsistensi Tan memegang prinsip hidup.

"Pemikirannya yang otentik lantaran giatnya dia belajar dan menganalisis sehingga berbuah pemikiran yang orisinil dan banyak dituangkan menjadi karya buku. Lalu visi nasionalismenya begitu tinggi, bahkan mau kawin pun mempertanyakan apa kepentingan untuk negaranya. Ketiga konsistensinya, makanya beliau tidak jarang merasa kesepian," beber Tirmidzi.

Tiga hal tersebut menjadi pembelajaran dan dapat diteladani, khususnya untuk membentuk karakter kaum muda. Dia pun mengapresiasi adanya film Mahaguru Tan Malaka dapat merangsang orang-orang memahami Bapak Republik Indonesia yang terlupakan ini.

"Film yang jadi sarana memperkenalkan seseorang tersebut, film kekunoan yang dibingkai menjadi kekinian. Jadi panggung ini sangat baik sekali untuk mempelajari sejarah, membuka ruang mengkritisi ketidaktahuan, melepaskan stigma," pungkasnya. 

 

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600