Imbas Positif Penutupan Industri Pencemar Kali Bekasi Hanya Bertahan Beberapa Hari
Oleh Ananda M Firdaus, pada Oct 12, 2018 | 14:35 WIB
Imbas Positif Penutupan Industri Pencemar Kali Bekasi Hanya Bertahan Beberapa Hari
Penyegelan industri pencemar Sungai Cileungsi, Senin (1/10/2018) (dok. KP2C)

BEKASI SELATAN, AYOBEKASI.NET -- Kualitas aliran Kali Bekasi yang sudah membaik, kembali mengalami pencemaran lagi. Padahal pada tanggal 1 Oktober 2018, industri-industri pencemar yang berada di aliran hulu Kali Bekasi, Sungai Cileungsi, sudah disegel.

"Imbas positifnya (kondisi Kali Bekasi) ada setelah penutupan itu, tapi sekarang menggelap lagi warna kalinya," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Jumhana Luthfi, Jumat (12/10/2018). 

Luthfi menduga, perubahan kondisi Kali Bekasi berindikasi dari tindakan pencemaran dari industri di Kabupaten Bogor. Meski tidak tertutup kemungkinan limbah lokal, misalnya dari rumah tangga ikut berkontribusi pada kualitas air.

"Tadi pagi-pagi saya suruh staf saya ke perbatasan, ternyata hitam perbatasannya. Ada indikasi dari industri-industri di bantaran sungai," ujarnya. 

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Puarman, menduga kualitas Kali Bekasi kembali berubah seolah tercemar lantaran industri yang disegel tempo hari baru sebagian saja dari industri-industri yang patut diduga mencemari sampai 10 industri lebih.

Industri-industri yang disegel pada awal Oktober tersebut antara lain PT AIP  dan  PT HTI, berlokasi di Desa Cicadas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Lalu PT  MGP dan PT FOTS, berlokasi di Desa Kembang Kuning, Klapa Nunggal, Kabupaten Bogor. 

"Seperti kita tahu yang disegel baru empat, sementara kita duga itu lebih dari 10. Harusnya DLH Kabupaten Bogor melanjutkan kegiatan ini (pengawasan dan penindakan), jangan sampai kendor. Diduga ini masih ada yang nakal," ujar Puarman. 

Dari pantauan KP2C, pasca penyegelan empat industri tersebut, kondisi air mulai menjernih, namun hanya berlangsung sekitar tiga hari. "Berubah lagi ketika memasuki hari keempat," katanya. 

Dia cukup bingung dan menyesalkan hal ini. Padahal dalam uji lab yang pernah dilakukan Environment Community Union terhadap kondisi Kali Bekasi, menemukan kandungan timbal, logam berat, merkuri, surfaktan, hingga fosfat di luar ambang batas sehingga tidak layak untuk dipergunakan. Malah Puarman sempat mengimbau agar masyarakat menjauhi aktivitas di lingkungan sungai, terlebih dirinya sempat merasakan dampak buruknya. 

"Memang untuk mendeteksi (industri) mana yang sekarang mencemari tidak mudah, kalau Bekasi di hilir hanya jadi korbannya, kalau mencari yang hulunya itu enggak mudah," ujarnya. 

Berdasarkan data diduga industri pencemar yang dilaporkan KP2C kepada DLH Kabupaten Bogor, baru empat industri didapati melakukan pencemaran. Sementara sisanya disebut telah melakukan pembenahan terkait tata kelola pembuangan limbah industri.

"Kalau kami melihat (pencemaran) secara visual, warna sungainya berubah, itu yang kita laporkan. Ternyata menurut aturan warna itu tidak masuk parameter tercemar. Tapi jujur saja (pencemaran aliran sungai) itu paling banyak dari laundry garmen. Saya bingung kok masih berlanjut seperti ini," katanya. 

Dia menduga masih ada industri yang berbuat nakal meskipun harus ditelusuri kembali. Dia berharap DLH Kabupaten Bogor melakukan pemantauan lebih lanjut.

"Makanya momentum ini harus dikawal terus oleh DLH Kabupaten Bogor setuntas-tuntasnya sebelum musim hujan datang. Karena akan sulit dilihat pencemarannya kalau masuk musim hujan, karena debit airnya jadi tinggi. Jujur saja Bekasi hanya ketiban sialnya saja," pungkasnya. 
 

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Lexi