Pencemaran Kali Bekasi Terus Berlangsung, Warga Sumpahi Industri Nakal
Oleh Ananda M Firdaus, pada Oct 17, 2018 | 13:04 WIB
Pencemaran Kali Bekasi Terus Berlangsung, Warga Sumpahi Industri Nakal
Kali Bekasi tampak tercemar, Rabu (17/10/2018). (Ananda Muhammad/ayobekasi.net)

BEKASI SELATAN, AYOBEKASI.NET -- Gumpalan busa putih mirip salju kembali menutupi permukaan aliran Kali Bekasi pagi ini, Rabu (17/10/2018). Peristiwa ini bukan sekali dua kali terjadi, sehingga sudah jadi pemandangan umum bagi masyarakat kebanyakan.

Salah seorang warga Bekasi, Imran, mengaku tidak heran dengan fenomena ini. Hanya saja dia menyayangkan aliran yang biasa digunakan sebagai salah satu baku mutu air pengolahan PDAM ini dibiarkan berlarut-larut.

Meski tidak tahu persis siapa yang pantas mengurusi persoalan pencemaran ini, dia mengutuk keras para pembuang limbah yang diduga berasal dari industri nakal di Kabupaten Bogor.

"Saya yakin, laknat Tuhan menyertai para pelaku yang mencemari sungai. Sungai itu ibaratnya sumber kehidupan, siapa saja berani mengganggu ekosistem kehidupan, dia harus siap-siap dijatuhi hukuman dunia maupun akhirat," geram Imran.

Dari pantauan ayobekasi.net di jembatan Bendungan Bekasi, aliran kali sepenuhnya tertutupi oleh gumpalan busa serupa salju. Sejumlah warga pengguna jalan, tampak bergiliran melihat dan mengabadikan fenomena miris ini.

Setidaknya fenomena buih salju terjadi sudah terjadi sebanyak empat kali. Ayobekasi mencatatnya pada 16 Februari, 3 September, 28 September, dan terakhir 17 Oktober 2018.

Buih Salju Hanya Satu Dampak Pencemaran
Pada suatu kesempatan, Kepala DLH Kota Bekasi, Jumhana Luthfi, menjelaskan bila keadaan air tengah normal, maka di atas permukaan air tidak akan timbul gumpalan seperti salju. Namun lantaran air dalam kondisi tidak netral alias derajat asam/basa tidak normal, maka reaksi kimia akan menimbulkan buih, khususnya ketika terpapar air hujan.

"Saat terjadi hujan terjadi benturan antara ion-ion pencemar yang ada di air, sehingga menghasilkan gas yang secara kasatmata karena berada di perairan berwujud busa atau buih," jelasnya (3/9).

Namun fenomena gumpalan salju pada permukaan Kali Bekasi hanya salah satu dampak akibat pencemaran. Pencemaran lebih jauhnya akan berpengaruh pada kualitas air itu sendiri. Diketahui, pencemaran yang diduga berasal dari buangan limbah industri di sepanjang bantaran Sungai Cileungsi tersebut turut berpengaruh pada bau dan warna air yang tampak tidak seperti mestinya.

Dalam uji lab yang pernah dilakukan Environment Community Union terhadap kondisi Kali Bekasi, ditemukan sejumlah kandungan berbahaya dalam air. Antara lain kandungan timbal, logam berat, merkuri, surfaktan, hingga fosfat di luar ambang batas normal. Sehingga dianggap aliran sungai sudah digenapi racun dan tidak layak untuk dipergunakan.

PDAM Tirta Patriot sebagai pemasok air bersih untuk warga Kota Bekasi yang mendapatkan imbas langsung kualitas air yang buruk ini. Bahkan setahun ini, sudah dua kali pelayanan dihentikan untuk 31 ribu pelanggan yaitu pada 11 Agustus dan 27 September.

"Kenapa kita tidak mengolah air dengan kandungan limbah yang tinggi, karena infrastruktur kita instalasi pengolahan air bukan pengolahan limbah," ujar Kasubag Humas PDAM Tirta Patriot, Uci Indrawijaya (29/9).

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Puarman, bahkan pernah memberi peringatan agar masyarakat tidak mendekati melakukan aktivitas bersentuhan dengan aliran sungai lantaran secara pribadi pernah merasakan dampak buruknya pada kulit tubuh saat menyisir pencemar aliran Sungai Cileungsi maupun Kali Bekasi.

Dia juga pernah mendata puluhan warga yang mengaku mendapatkan efek buruk pencemaran di wilayah Kabupaten Bogor, dan Bantargebang, Kota Bekasi. Mereka mengeluh pusing, mual, hingga muntah-muntah, saking tidak kuatnya terhadap kondisi air.

"Sebenarnya jumlah warga yang mengeluhkan bau itu banyak, cuman yang merasakan bau, mual, pusing, sampai muntah-muntah itu sekitar 40 orang ada," kata Puarman (6/9).

Sebelum Musim Hujan, Pencemar Harus Ditindak
Pada 1 Oktober 2018, empat perusahaan industri disegel oleh DLH Kabupaten Bogor. Mereka antara lain PT AIP  dan  PT HTI, berlokasi di Desa Cicadas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Lalu PT  MGP dan PT FOTS, berlokasi di Desa Kembang Kuning, Klapa Nunggal, Kabupaten Bogor.

Puarman mengatakan, tiga hari setelah penutupan, imbas positif terlihat secara kasatmata, namun kembali berubah memasuki hari keempat.

Pihaknya, maupun DLH Kota Bekasi mengindikasikan sejumlah industri masih melakukan pencemaran. Dari hasil penelusuran KP2C yang dilaporkan kepada DLH Kabupaten Bogor, setidaknya terdapat 10 lebih patut diduga mencemari aliran sungai.

"Seperti kita tahu yang disegel baru empat, sementara kita duga itu lebih dari 10. Harusnya DLH Kabupaten Bogor melanjutkan kegiatan ini (pengawasan dan penindakan), jangan sampai kendor. Diduga ini masih ada yang nakal," ujar Puarman (12/10).

Memang, lanjut Puarman, untuk membeberkan prasangkanya tersebut harus ada pihak yang kembali mengecek ke lapangan. Dia mengungkapkan, industri-industri diduga masih berbuat nakal tersebut harus ditindak secepat mungkin sebelum masuk musim penghujan.

Alasannya, bila hujan telah turun maka akan berkontribusi pada volume air sehingga pipa-pipa pembuangan limbang sulit untuk dideteksi.

"Makanya momentum ini harus dikawal terus oleh DLH Kabupaten Bogor setuntas-tuntasnya sebelum musim hujan datang. Karena akan sulit dilihat pencemarannya kalau masuk musim hujan, karena debit airnya jadi tinggi. Jujur saja Bekasi hanya ketiban sialnya saja," pungkasnya.

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha NMax