Hubungan Industrial Pancasila Bisa Meredam Gejolak Pekerja dan Pengusaha
Oleh Ananda M Firdaus, pada Dec 06, 2018 | 21:53 WIB
Hubungan Industrial Pancasila Bisa Meredam Gejolak Pekerja dan Pengusaha
Buruh dalam peringatan May Day 2018. (Ananda M Firdaus/Ayobekasi.net)

BEKASI SELATAN, AYOBEKASI.NET--Hubungan industrial Pancasila yang digagas 44 tahun silam kembali dihidupkan para pengusaha, pekerja, maupun pemerintah di Kabupaten Bekasi. Hubungan industrial ini dinilai dapat meredam gejolak di dalam dunia industri.

"Karena kalau kita coba eksplorasi, hubungan industrial Pancasila sangat luarbiasa, sangat indah. Menghargai hak asasi, menghargai hak kemanusiaan, menghargai hak demokrasi, keadilan dan seterusnya," ujar Ketua Umum Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Bekasi, R. Abdullah, Kamis (6/12/2018).

AYO BACA : 20 Tahun Tenggelam, Hubungan Industrial Pancasila Kembali Digaungkan di Bekasi

Abdullah menjelaskan, digaungkannya lagi hubungan industrial Pancasila bersamaan pula dengan masuknya era industri 4.0 yang cenderung meliberalisasi pasar. Maka, hubungan industrial Pancasila sudah sepantasnya diterapkan lagi, mengingat model industri ini menanamkan nilai-nilai kebangsaan.

"Bekasi adalah kota industri terbesar di Indonesia malah di Asia Tenggara, sudah barang tentu akan mengundang investor dari berbagai negara. Jadi sekali pun mereka (investor) dari Hongkong, Taiwan, Cina, Jepang atau Amerika, tapi harus tunduk dengan hubungan industrial berbasis Pancasila," tambahnya.

AYO BACA : Mantan Menaker Era Gusdur Dukung Reaktualiasi Hubungan Industrial Pancasila

Dia tidak menyangkal, hubungan industrial Pancasila pernah dianggap tidak relevan dipergunakan lagi dari dunia industri. Namun pasca dicabut pada 1998, hubungan industrial Indonesia seolah tanpa aturan yang jelas. Padahal hubungan industrial kurang lebih membicarakan etika industri.

Selain itu, timbul kegaduhan di dunia industri. Misalnya unjuk rasa dari para pekerja. Meski unjuk rasa telah diatur dan dianggap legal ketika diselenggarakan. Hal tersebut dinilai terlalu membuang energi padahal terdapat budaya musyawarah mufakat seperti yang ditanamkan dalam nilai-nilai Pancasila.

"Pasca reformasi hingga hari ini secara umum, pekerja merasakan keresahan kolektif indikasinya sering demo. Di sisi lain pengusaha juga resah gelisah. Kalau dua-duanya resah tidak ada yang diuntungkan. Padahal menyelesaikan masalah yang paling ideal adalah lewat meja rundingan, padahal demo juga ujungnya berunding, jadi kita banyak buang-buang energi," katanya.

AYO BACA : Era Revolusi Industri 4.0 Jadi Ancaman Pekerja Indonesia

Editor : Dadi Haryadi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Lexi